Kongres GMKI XXXIX : Konseptualisasi Iman di GMKI.
Kongres GMKI XXXIX : Konseptualisasi Iman di GMKI
Konseptualisasi iman dalam pergerakan mahasiswa adalah gagasan yang menghubungkan nilai-nilai keimanan dengan aktivisme mahasiswa. Secara teoritis, perkembangan iman dalam konteks mahasiswa dapat dikaitkan dengan teori perkembangan iman yang dikemukakan oleh Flower. Teori ini menjelaskan bahwa iman bukan hanya sekadar keyakinan, tetapi juga proses dinamis yang berkembang seiring dengan pengalaman dan pemahaman individu. Dalam pergerakan mahasiswa, iman dapat menjadi kekuatan moral yang mendorong mereka untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
Dalam konteks Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), konseptualisasi iman berperan sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter kader dan arah perjuangan organisasi. GMKI menekankan bahwa iman Kristen bukan hanya aspek spritual, tetapi juga menjadi kekuatan moral yang mendorong mahasiswa untuk berkontribusi lebih dalam perubahan sosial, politik dan intelektual. GMKI memiliki tiga medan layan utama, yakni: gereja, perguruan tinggi, dan masyarakat. Dalam setiap medan layan ini, iman menjadi landasan bagi kader GMKI untuk menjalankan misi pelayanan dan advokasi. Pendalaman Alkitab (PA) dan diskusi ilmiah sering digunakan sebagai metode untuk mengembangkan pemahaman iman yang kritis dan analitis terhadap berbagai fenomena sosial. Namun, GMKI juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan nilai-nilai pergerakan. Pergeseran paradigma dan munculnya pragmatisme dalam organisasi ini telah menyebabkan krisis nilai, karakter, dan budaya literasi ilmiah di kalangan kader. Oleh karena itu, GMKI harus terus berupaya menjaga keseimbangan antara iman, ilmu, dan pengabdian sebagaimana prinsip fundamental GMKI yakni Tri Panji GMKI agar tetap relevan dalam menghadapi dinamika zaman.
Seperti yang kita ketahui, Tri Panji GMKI terdiri dari tiga nilai utama, yakni:
1. Tinggi Iman - Mengacu pada komitmen kader GMKI untuk memperdalam iman Kristen dalam kehidupan pribadi dan sosial. Iman menjadi dasar dalam setiap tindakan dan mengambil keputusan yang penting.
2. Tinggi Ilmu - Menekankan pentingnya pengembangan intelektual dan keilmuan. Kader GMKI didorong untuk terus belajar berpikir kritis, dan berkontribusi dalam dunia akademik serta sosial.
3. Tinggi Pengabdian - Menggambarkan semangat pelayanan dan kontribusi kader GMKI bagi gereja, perguruan tinggi, dan masyarakat. Pengabdian ini diwujudkan dalam berbagai bentuk advokasi, aksi sosial, dan kepemimpinan.
Tri Panji bukan hanya sekadar slogan, tetapi identitas dan karakter yang harus dimiliki setiap kader GMKI dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat.
Konseptualisasi iman dalam GMKI memiliki beberapa aspek penting yang membentuk karakter dan arah perjuangan organisasi, antara lain:
1. Iman sebagai Fondasi Pergerakan - GMKI menempatkan iman Kristen sebagai dasar dalam setiap aktivitasnya. Iman bukan hanya sekadar keyakinan pribadi, tetapi juga menjadi kekuatan moral yang mendorong mahasiswa untuk berkontribusi dalam perubahan sosial, politik, dan intelektual.
2. Medan Pelayanan GMKI
- Gereja: Mendorong kader untuk aktif dalam pelayanan gerejawi dan memperkuat spritualitas. Sebab GMKI merupakan anak kandung gereja.
- Perguruan Tinggi: Mengembangkan pemikiran kritis dan keilmuan yang berbasis iman.
- Masyarakat: Mengadvokasi keadilan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
3. Pergeseran Paradigma dan Tantangan - GMKI menghadapi tantangan dalam mempertahankan nilai-nilai pergerakan. Munculnya pragtisme dalam organisasi ini telah menyebabkan krisis nilai, karakter, dan hilangnya moralitas GMKI itu sendiri.
Untuk memastikan GMKI tetap relevan dan mampu menjawab tantangan hukum, sosial, politik, ekonomi, dan budaya, ada beberapa aspek yang perlu dibenahi:
1. Revitalisasi Kaderisasi Kepemimpinan - GMKI perlu memperkuat sistem kaderisasi dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Beberapa langkah yang harapannya bisa menjadi sebuah solusi terbaik adalah:
- Konstruksi ulang kurikulum kaderisasi dengan memasukkan materis seperti teologi publik, filsafat gerakan, hermeneutika sosial, dan nasionalisme kontekstual.
- Digitalisasi kaderisasi melalui modul daring, podcast kaderisasi, dan komunitas intelektual virtual.
- Mentoring intensif antara kader, senior dan junior untuk memastikan transfer nilai, visi, dan karakter yang kuat.
2. Penyelesaian Konflik Internal dan Penguatan Demokrasi Organisasi - Hal ini tentunya perlu dilakukan secara terbuka dan jujur, mengingat GMKI sendiri pernah mengalami dualisme kepengurusan di Pusat GMKI sehingga mengakibatkan beberapa cabang GMKI yang ada di Indonesia menjadi dualisme kepengurusan juga. Berharap pengurus pusat GMKI lebih mengutamakan kepentingan organisasi dibandingkan dengan kepentingan pribadinya atau kepentingan sekelompok yang menjadi satu komando, serta menurunkan ego antar sesama pengurus pusat GMKI.
3. Adaptasi terhadap Tantangan Hukum, Sosial, Politik, Ekonomi dan Budaya - GMKI harus mampu merespons dinamika eksternal secara akselerasi dengan strategi yang tepat :
- Peningkatan literasi politik agar kader memahami kebijakan publik dan mampu berkontribusi dalam advokasi sosial. Dalan hal ini, pengurus pusat diharapkan lebih aktif dalam merespon dan memberikan arahan ke tiap-tiap cabang yang ada di Indonesia.
- Penguatan ekonomi kader melalui program kewirausahaan berbasi komunitas untuk meningkatkan kemandirian yang finansial. Sebab, mengingat GMKI adalah organisasi pengkaderan dan bukan organisasi nirlaba atau sejenis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang hanya bermodalkan proposal.
- Peningkafan pemahaman hukum agar kader GMKI dapat berperan dalam advokasi keadilan sosial dan hak asasi manusia. Di lain itu, GMKI juga diharapkan agar segera berbadan hukum, maka segala aktivitas sosial yang dilakukan oleh GMKI seperti mengadvokasi keadilan sosial bagi masyarakat dan mahasiswa tidak hanya sebatas tindakan materi melainkan juga turut serta mampu mengkawal sampai keadilan tersebut benar-benar didapatkan.
- Strategi budaya yang mempertahankan nilai-nilai kekristenan sambil tetap terbuka terhadap pluralisme dan perubahan zaman. Dalam hal ini, setiap cabang GMKI yang ada di Indonesia berdiri di berbagai daerah dengan kultur dan budaya yang berbeda mampu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya.
Dalam pembenahan ini, GMKI dapat menjadi organisasi yang lebih solid, adaptif, dan berdaya guna dalam menghadapai tantangan zaman.
Mengingat GMKI sendiri pernah mengalami dualisme kepengurusan yang mengakibatkan cedera serius di tubuh GMKI, yang mana motto Ut Omnes Unum Sint dianggap hanya sebagai slogan-slogan semata yang tidak memiliki nilai-nilai penting di GMKI. Walaupun pada akhirnya pengurus pusat GMKI menjadi satu kembali, namun dampak yang terjadi akibat dualisme kepengurusan selain beberapa cabang GMKI juga menjadi dualisme, di internal pengurus pusat GMKI juga menjadi tidak seiya dan sekata. Melainkan, bergerak dan berjalan secara individu atau berkelompok dengan sesama pengurus yang dianggap sebagai satu kubu. Maka, dalam merespon hal ini GMKI melalui Badan Pengurus Cabang yang ada di berbagai daerah di Indonesia membuka suara dan menyatakan sikap serta mampu menghadirkan kembali keutuhan GMKI seperti semula GMKI itu sendiri berdiri.
Kongres GMKI ke-XXXIX yang dilaksanakan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur merupakan sebuah momentum untuk mengembalikan GMKI ke semula, jika sebelumnya tulisan saya menyatakan bahwa GMKI bukanlah Ut Omnes Unum Sint melainkan Ut Omnes Duo Sint. Maka, melalui Kongres GMKI XXXIX ini kita semua berharap agar tidak ada lagi perpecahan, mari kita berpikir secara kritis demi kepentingan organisasi dan bersama-sama kita menanggalkan kepentingan pribadi kita. Karena jika demikian terwujud maka tidak hanya berkembang melainkan GMKI sebagai organisasi yang maju dan bisa dikatakan GMKI Naik Level.
Mengingat GMKI berdiri dengan landasan Oikumenisme dan Nasionalisme, maka motto Ut Omnes Unum Sint menjadi motto yang benar-benar hidup dan memiliki nilai utama bagi tubuh GMKI dalam menjalankan penatalayanannya di tiga medan layan GMKI dan berpegang teguh pada prinsip GMKI yakni Tri Panji GMKI dan menghadirkan roh GMKI itu sendiri dengan menjalankan Panca Kegiatan GMKI.
Kota Samarinda, 16 Mei 2025

Komentar
Posting Komentar